Senin, 07 November 2016

Tugas 1 - Etika Profesi Akuntansi

Ajeng Risky
20213516
4EB17



URL : www.stiestembi.ac.id/?&c=jurnal-star   ISSN : 1693-4482


Etika Profesi, Profesionalisme, Dan Kualitas Audit


M. Budi Djatmiko

Dosen STIE STEMBI – Bandung Business School

M. Zulfa Hadi Rizkina

Peneliti Junior STIE STEMBI – Bandung Business School

Abstrak

Proses audit yang berkualitas merupakan dambaan setiap pihak untuk dapat menegakan akuntabilitas dan menjamin indepensi opini yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bukti empiris mengenai pengaruh etika profesi dan profesionalisme terhadap kualitas audit.

Penelitian ini dilakukan pada 10 KAP di Kota Bandung dengan responden sebanyak 30 orang supervisor auditor. Data dikumpulkan dengan kuesioner yang disusun dengan mengikuti skala likert. Untuk menguji hipotesis, data diolah dengan multiple regression.

Hasil analisis statitistik menunjukan bahwa secara simultan etika profesi dan profesionalisme berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit. Secara parsial, etika profesi dan profesionalisme berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit. Hasil ini sekaligus membuktikan teori dan hasil-hasil penelitian sebelumnya yang dijadikan sebagai rujukan.

Kata Kunci : Etika profesi, Profesionalisme, Kualitas Audit.






PENDAHULUAN

Profesi akuntan publik dikenal oleh masyarakat dari jasa audit yang disediakan bagi pemakai informasi keuangan. Timbul dan berkembanganya profesi akuntan publik di suatu negara adalah sejalan dengan perkembangan perusahaan dan berbagai bentuk badan hukum perusahaan di negara tersebut. Dalam perkembangan usahanya, baik perusahaan perorangan maupun berbagai perusahaan berbentuk badan hukum yang lain tidak dapat menghindarkan diri dari penarikan dana dari pihak luar, yang tidak selalu dalam bentuk penyertaan modal dari investor, tetapi berupa penarikan pinjaman dari kreditur. Dengan demikian, pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan perusahaan tidak lagi terbatas hanya pada kepemimpinan perusahaan, tetapi meluas kepada para investor dan kreditur serta calon investor dan kreditur.

Dengan demikian, terdapat dua kepentingan yang berlawanan dalam situasi seperti ini. Di satu pihak, manajemen perusahaan ingin menyampaikan informasi mengenai pertanggungjawaban pengelolaan data yang berasal dari pihak luar, di pihak lain, pihak luar perusahaan ingin memperoleh informasi yang andal dari manajemen perusahaan mengenai pertanggungjawaban dana yang mereka investasikan. Baik manajemen perusahaan maupun pihak luar perusahaan yang berkepentingan terhadap perusahaan memerlukan jasa pihak ketiga yang dapat dipercaya. Tanpa menggunakan jasa auditor independen, manajemen perusahaan tidak akan dapat meyakinkan pihak luar perusahaan bahwa laporan keungan yang disajikan berisi informasi yang dapat dipercaya (Mulyadi, 2008: 2).

Auditor menjadi profesi yang diharapkan banyak orang untuk dapat meletakan kepercayaan sebagai pihak yang bisa melakukan audit atas laporan keuangan dan dapat bertanggung jawab atas pendapat yang diberikan. Profesionalisme menjadi syarat utama bagi seorang auditor eksternal. Guna menunjang profesionalismenya sebagai akuntan publik maka auditor dalam melaksanakan tugas auditnya harus berpedoman pada standar audit yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), yakni: 1). Standar umum; 2). Standar pekerjaan lapangan; 3). Standar pelaporan.

Dimana standar umum bersifat pribadi dan berkaitan dengan persyaratan auditor dan mutu pekerjaannya. Sedangkan standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan mengatur auditor dalam hal pengumpulan data dan kegiatan lainnya yang dilaksanakan selama melakukan audit serta mewajibkan auditor untuk menyusun suatu laporan atas laporan keungan yang diauditnya secara keseluruhan.

Kebutuhan akan jasa audit bagi perusahaan semakin meningkat. Hal ini berkaitan erat dengan kebutuhan pemakai laporan keuangan atas informasi keuangan yang bebas dari risiko informasi. Audit adalah sesuatu yang berharga karena dapat mengurangi risiko informasi (Arens, 2005:18). Akuntan publik adalah profesi yang memberikan jasa audit atas laporan keuangan klien untuk memberikan jaminan kepada pemakai laporan keuangan bahwa laporan keuangan tersebut telah disusun sesuai dengan standar akuntansi keuangan. Akuntan publik dalam memberikan opininya atas laporan keuangan yang telah diaudit, harus mempertanggungjawabkan semua perikatan audit yang telah dilakukan.

Kemudian, kasus yang menimpa akuntan publik JAS yang diindikasi melakukan kesalahan dalam mengaudit laporan keuangan PT Great River Internasional, Tbk menyebabkan munculnya keraguan atas opini audit dan akibatnya masyarakat mengkritik profesi auditor. Kasus tersebut muncul setelah adanya temuan auditor investigasi dari Bapepam yang menemukan indikasi penggelembungan akun penjualan, piutang dan aset hingga ratusan milyar rupiah pada laporan keuangan PT Great River, Tbk yang mengakibatkan perusahaan tersebut akhirnya kesulitan arus kas dan gagal dalam membayar utang. Berdasarkan investigasi Bapepam menyatakan bahwa akuntan publik yang memeriksa laporankeuangan PT Great River, Tbk ikut menjadi tersangka. Oleh karenanya, Menteri Keuangan RI terhitung sejak tanggal 28 November 2006 telah membekukan izin akuntan publik JAS selama dua tahun karena terbukti melakukan pelanggaran terhadap Standar Profesi Akuntan Publik (SPAP) berkaitan dengan laporan audit atas laporan keuangan konsolidasi PT. Great River, Tbk tahun 2003.

Pada akhir-akhir ini kasus audit pada perusahaan dan ditutupnya beberapa Kantor Akuntan Publik di Indonesia
(www.bapepamlk.depkeu.go.id, 2000 - 2006) menjadi suatu persoalan besar bagi profesi akuntan publik dan menjadi tantangan berat untuk memperbaiki citra profesi audit. Pelanggaran-pelanggaran dalam profesi akuntansi di Indonesia yang dilakukan auditor pada prinsipnya menyangkut tentang publisitas, objektivitas opini,etika, independensi, hubungan dengan rekan seprofesi,perilaku disfungsional, perubahan opini akuntan tanpa alasan dan bukti yang kuat serta pembayaran fee (Ikatan Akuntan
Indonesia, 2004).

Tujuan Penelitian

Berdasarkan fenomena-fenomena yang telah dikemukaan diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai etika profesi dan profesionalisme auditor terhadap kualitas auditor. Oleh karena itu penulis mengambil judul penelitian “Pengaruh Etika Profesi Dan Profesionalisme Auditor Terhadap Kualitas Audit”.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan bukti empiris mengenai dampak dan besarnya pengaruh implementasi etika dan profesionalisme auditor terhadap kualitas audit.

TINJAUAN PUSTAKA

Etika Profesi

Etika dari bahasa Yunani dari kata Ethos yang berarti ”karakter”. Nama lainnya adalah moralitas yang berasal dari bahasa latin yaitu kata mores berarti ”kebiasaan”. Moralitas berfokus pada perilaku manusia yang ”benar” dan “salah”. Etika berhubungan dengan bagaimana seseorang bertindak terhadap orang lainnya (Sunarto, 2003: 62).

Etika Profesional lebih luas dari prinsip-prinsip moral. Etika tersebut mencakup prinsip perilaku untuk orang-orang profesional yang dirancang baik untuk tujuan idealistis (Sunarto, 2003: 63).

Etika secara umum didefiniskan sebagai nilai-nilai tingkah laku atau aturan-aturan tingkah laku yang diterima dan digunakan oleh suatu golongan tertentu atau individu (Suraida, 2005:118).

Menurut Siti Rahayu (2010:49). Etika profesi merupakan kode etik untuk profesi tertentu dan karenanya harus dimengerti selayaknya, bukan sebagai etika absolut. Untuk mempermudah harus dijelaskan bagaimana masalah hukum dan etika berkaitan walaupun berbeda.

Menurut E. Sumaryono (1995: 16)

Etika adalah studi tentang benar-salahnya perbuatan manusia. Ada dua jenis perbuatan, yaitu: perbuatan manusia sebagai makhluk pada umumnya (actus hominis), dan perbuatan manusia sebagai manusia (actus humanus). Yang pertama biasanya dilakukan secara tanpa disadari, seperti bernafas, bergerak bahkan berfikir. Sedang yang kedua, yang juga disebut perbuatan manusiawi, adalah perbuatan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan diketahui sendiri, serta atas dasar kebebasannya sendiri. Dalam hal yang kedua ini manusia dibedakan dari binatang, sebab manusia adalah tuan dari perbuatannya sendiri. Manusia menjadi tuan atas perbuatannya sendiri atas dasar akal pikiran dan kehendaknnya yang bebas. K. Bertens, (1993: 6) mengartikan etika sebagai berikut: 1). Nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya; 2). Kumpulan asas atau nilai moral (kode etik), 3). Ilmu tentang baik atau buruk (asas-asas dan nilai-nilai tentang yang dianggap baik dan buruk).

Adapun Soekrisno Agoes (2012:12) berpendapat sebagai berikut: Akuntan publik (eksternal auditor) adalah pemilik KAP (kantor akuntan publik) atau orang yang bekerja di KAP. Sedangkan Arens (2003 : 17) mendefinisikan para auditor yang melakukan proses audit pada laporan keuangan seringkali disebut sebagai auditor independen. Walaupun seorang auditor yang mengaudit laporan keuangan perusahaan publikasi telah menerima sejumlah pembayaran dari perusahaan, umumnya ia tetap dalam posisi yang cukup independen untuk melaksanakan audit, yang hasilnya dapat diandalkan oleh para pengguna informasi.

Dari beberapa pengertian diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa etika profesi merupakan norma yang mengikat secara moral hubungan antar manusia, yang dapat dituangkan dalam aturan, yang disusun dalam kode etik suatu profesi, dalam hal ini adalah norma perilaku yang mengatur hubungan auditor dengan klien, auditor dengan rekan seprofesi, auditor dengan masyarakat dan terutama dengan diri sendiri.

Prinsip etika menurut SAP 2011 adalah sebagai berikut :

Prinsip integritas. Setiap praktisi harus tegas dan jujur dalam menjalin hubungan professional dan hubungan bisnis dalam melaksanakan pekerjaannya.

Prinsip kehati-hatian professional. Setiap praktisi wajib memelihara pengetahuan dan keahlian profesionalnya pada suatu tingkatan yang dipersyaratkan secara berkesinambungan, sehingga klien atau pemberi kerja dapat menerima jasa professional yang dierikan secara kompeten berdasarkan perkembangan terkini dalam praktik, perundang-undangan, dan metode pelaksanaan pekerjaan. Setiap praktisi harus bertindak secara professional dan sesuai dengan standar profesi dank ode etik profesi yang berlaku dalam memberikan jasa profesionalnya.

Prinsip kerahasiaan. Setiap praktisi wajib menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh sebagai hasil dan hubungan professional dan hubungan bisnisnya, serta tidak boleh mengungkapkan informasi tersebut kepada pihak ketiga tanpa persetujuan dari klien atau pemberi kerja, kecuali jika terdapat kewajiban untuk mengungkapkan sesuai dengan ketentuann hukum atau peraturan yang berlaku. Informasi rahasia yang diperoleh dari hubungan professional dan hubungan bisnis tidak boleh digunakan oleh praktisi untuk keuntungan pribadinya atau pihak ketiga.
Profesionalisme

Profesionalisme (professionalism), didefinisikan secara luas, mengacu pada perilaku, tujuan, atau kualitas yang membentuk karakter atau memberi ciri suatu profesi atau orang-orang professional.

Adapun menurut (Badudu dan Sutan, 2002:848). Profesi adalah pekerjaan dimana dari pekerjaan tersebut diperoleh nafkah untuk hidup, sedangkan profesionalisme dapat diartikan bersifat profesi atau memiliki keahlian dan keterampilan karena pendidikan dan latihan.

Profesionalisme adalah suatu atribut individul yang penting tanpa melihat suatu pekerjaan merupakan suatu profesi atau tidak
(Lekatompessy, 2003). Menurut E. Sumaryono (1995: 32-33), sebuah profesi terdiri dari kelompok terbatas dari orang-orang yang memiliki keahlian khusus dan dengan keahlian itu mereka dapat berfungsi di dalam masyarakat dengan lebih baik bila dibandingkan dengan warga masyarakat lain pada umumnya. Atau, dalam pengertian yang lainnya, sebuah profesi adalah sebuah sebutan atau jabatan dimana orang yang menyandangnya mempunyai pengetahuan khusus yang diperolehnya mempunyai ‘training’ atau pengalaman lain, atau bahkan diperoleh melalui keduanya, sehingga penyandang profesi dapat membimbing orang lain dalam bidangnya sendiri.

Istilah profesional menunjuk pada pekerjaan yang diorganisir dalam bentuk institusional, di mana para praktisi yang independen dan berkominten secara eksplisit melayani kepentingan publik, serta menawarkan jasa terhadap klien di mana jasa tersebut secara langsung berhubungan dengan intelektualitas yang berbasis pada pengetahuan. Pengetahuan tersebut harus bersifat kompleks atau esetoris, dan adanya legitimasi sosial dalam bentuk pengetahuan yang diinstitusionalkan dan berbasis pada etika (Ivan A. Setiawan & Imam Ghozali, 2006: 4).

Kualitas Audit

Audit merupakan suatu proses untuk mengurangi ketidakselarasan informasi yang terdapat antara manajer dan para pemegang saham dengan menggunakan pihak luar untuk memberikan pengesahan terhadap laporan keuangan. Para penggguna laporan keuangan terutama para pemegang saham akan mengambil keputusan berdasarkan pada laporan yang telah dibuat oleh auditor mengenai pengesahan laporan keuangan suatu perusahaan. Hal ini berarti auditor mempunyai peranan penting dalam pengesahan laporan keuangan suatu perusahaan. Oleh karena itu, kualitas audit merupakan hal penting harus dipertahankan oleh para auditor dalam proses pengauditan.

Berbagai definisi dari berbagai para ahli adalah sebagai berikut : The quality of audit services is defined to be the market-assessed joint probability that a given auditor will both (a) discover a breach in the client's accounting system, and (b) report the breach. The probability that a given auditor will discover a breach depends on the auditor's technological capabilities, the audit procedures employed on a given audit, the extent of sampling, etc. The conditional probability of reporting a discovered breach is a measure of an auditor's independence from a given client.

(L.E DeAngelo : 1981)
Christiawan, 2002 dalam jurnal penelitiannya menyebutkan bahwa Kualitas audit ditentukan oleh dua hal yaitu kompetensi dan independensi. Kompetensi dan independensi yang dimiliki auditor dalam penerapannya akan terkait dengan etika.

AAA Financial Accounting Standard Committee (2000) dalam Christiawan (2002) menyatakan bahwa : “kualitas audit ditentukan oleh 2 hal, yaitu kompetensi (keahlian) dan independensi, kedua hal tersebut berpengaruh langsung terhadap kualitas dan secara potensial saling mempengaruhi. Lebih lanjut, persepsi pengguna laporan keuangan atas kualitas audit merupakan fungsi dari persepsi mereka atas independensi dan keahlian auditor”.

METODE PENELITIAN

Unit analisis pada penelitian ini adalah supervisor Kantor Akuntan Publik atau Auditor Eksternal yang bekerja di Kantor Akuntan Publik (KAP) yang ada di Kota Bandung. Menurut Islahuzzaman (2012:206) Kantor Akuntan Publik (KAP) adalah organisasi yang melaksanakan jasa professional yang dicakup oleh SPAP. Biasanya didirikan sebagai kepemilikan pribadi atau persekutuan, meliputi partner, principal dan staf profesionalnya.

Objek penelitian dan ruang lingkup penelitian ini, mencakup 2 (dua) variabel bebas (independen), yaitu Etika Profesi (X1), dan Profesionalisme Auditor (X2) serta satu variabel terikat (dependen) Kualitas Audit

(Y).

Sampel penelitian adalah 30 orang supervisor auditor dari 10 KAP di Kota Bandung. Data dkumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang disusun mengikuti skala likert. Analisis data dilakukan dengan Multiple regression.

Model Penelitian

Hipotesis yang akan diuji dirumuskan sebagai berikut :

“Etika profesi dan Profesionalisme berpengaruh terhadap Kualitas Audit baik secara parsial maupun simultan”.

HASIL PENELITIAN

Hasil pengolahan data menunjukan bahwa secara simultan etika profesi dan profesionalisme auditor berpengaruh 54,8% terhadap kualitas audit. Hal ini dapat dilihat pada tabel 1 yang ditunjukan oleh angka R2.

Tabel 1.

Koefisien determinasi

Model Summaryb




Adjusted R
Std. Error of
Durbin-
Model
R
R Square
Square
the Estimate
Watson






1
.669a
.548
.407
1.05663
1.529






Predictors: (Constant), X2, X1

Dependent Variable: Y

Ini berarti secara bersama-sama variabel Etika Profesi( 1)dan Profesionalisme Auditor( 2) memberikan pengaruh terhadap Kualitas Audit( )54,8% terhadap Kualitas Audit( ). Angka 54,8% disini artinya setiap perubahan Kualitas Auditor sebesar 54,8% dipengaruhi oleh perubahan variabel Etika Profesi ( 1)dan Profesionalisme Auditor( 2). Adapun sebesar 45,2% sisanya disebabkan


oleh variabel-variabel lain diluar variabel tersebut yang tidak dilibatkan dalam penelitian ini. Variabel lain yang mempengaruhi kulitas audit antara lain :kompetensi, independensi, seperti yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya Elyzabet I. Marpaung : 2012yang menyatakan bahwa independensi dan kompetensi mempengaruhi kualitas audit.

Untuk menguji signifikansi pengaruh simultan dapat dilihat pada tabel 2 sebagai berikut :

ANOVAb


Sum of

Mean






Model
Squares
df
Square
F
Sig.






1   Regress
24.438
2
12.219
10.99
.000a
ion



4

Residual
30.114
27
1.116


Total
54.582
29









Predictors: (Constant), X2, X1

Dependent Variable: Y

Berdasarkan hasil perhitungan yang terlihat pada tabel ANOVA di atas diperoleh nilai Fhitung sebesar 10,994. Sedangkan nilai
pada taraf nyata ( )5% dengan derajat bebas 1 = ; 2 = − − 1 = 30 − 2 − 1= 27 ialah 3.35. Nilai Fhitung lebih besar dari nilai

Ftabel sehingga hasil pengujian yang diperoleh adalah berpengaruh secara signifikan. Atau

bisa dilihat juga dari nilai probabilitas (nilai sig) yang dibandingkan dengan nilai yang dipakai, nilai sig 0,00< nilai 0,05. Dengan kata lain pengaruh yang terjadi dapat digeneralisir terhadap seluruh populasi yaitu auditor yang bekerja di KAP se-Kota Bandung. Sehingga dapat disimpulkan bahwa H₁ diterima. Atau dengan kata lain secara simultan variabel Etika Profesi ( 1) dan Profesionalisme Auditor ( 2) berpengaruh signifikan terhadap Kualitas Audit ( ).

Secara parsial pengaruh etika profesi dan profesionalisme auditor terhadap kualitas audit dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3

Koefisien Pengaruh Parsial




Standard





ized



Unstandardized
Coefficie



Coefficients
nts










Std.



Model
B
Error
Beta
t
Sig.






1   (Const
4.056
2.215

1.831
.078
ant)






X1
.214
.128
.668
4.467
.045
X2
.316
.068
.669
4.674
.000






a. Dependent Variable: Y

Dari Tabel di atas persamaan regresi yang dihasilkan yaitu sebagai berikut :

= 4.056 + 0,214 1 + 0,316 2 +

Dari persamaan regresi di atas dapat dilihat bahwa koefisien regresi ( 1) untuk variabel Etika Profesi ( 1) dan koefisien regresi ( 2) untuk variabel Profesionalisme Auditor( 2) bertanda potitif, artinya variabel etika profesi ( 1) dan variabel Profesionalisme Auditor ( 2) berpengaruh positif terhadap Kualitas Audit( ).

Variabel Etika Profesi ( 1) memiliki nilai koefisien regresi ( 1) sebesar 0,214 Hal

ini menunjukkan bahwa setiap peningkatan variabel Etika Profesi( 1) satu satuan nilai akan menaikan pula tingkat Kualitas Audit ( ) 0,214 satuan nilai, dengan asumsi variabel lainnya nol.

Profesionalisme Auditor( 2) memiliki nilai koefisien regresi ( 2) sebesar 0,316. Hal

ini menunjukkan bahwa setiap peningkatan variabel Profesionalisme Auditor ( 2) satu satuan nilai akan menaikanKualitas Audit ( ) 0,316satuan nilai, dengan asumsi variabel lainnya nol.

Untuk menguji signifikansi pengaruh parsial, dilakukan uji t, yakni membandingkan

thitung dengan ttabel. Nilai ialah nilai distribusi tstudent pada taraf nyata ( ) 5%

dengan df = n – k = 30 – 2 = 28 adalah 2,048. Variabel Etika Profesi (X1) mempunyai
pengaruh signifikan terhadap Kualitas audit

(Y). Hal ini ditunjukkan oleh thitung lebih besar


dari ttabel yaitu 4,467 > 2,048. Disamping itu dengan melihat pada lampiran Tabel

Coefficient, nilai signifikan lebih kecil daripada taraf nyata α = 5% yaitu 0,045 <

0,05. Dengan demikian, untuk variabel Etika Profesi (X1) H0 ditolak, H1 diterima. Artinya, apabila terjadi perubahan yang terjadi pada variabel Etika Profesi (X1), maka perubahan yang terjadi akan berarti pada variabel kualitas audit (Y) karena pengaruhnya signifikan.

Variabel Profesionalisme auditor (X2) mempunyai pengaruh signifikan terhadap Kualitas audit (Y). Hal ini ditunjukkan oleh

nilai t hitung yang lebih besar dari nilai t tabel yaitu 4,674< 2,048. Disamping itu dengan

melihat pada lampiran Tabel Coefficient, nilai signifikan lebih kecil daripada taraf nyata α =

5% yaitu 0,00<0,05. Dengan demikian, apabila terjadi perubahan sedikit saja pada variabel Profesionalisme Auditor (X2) maka akan terjadi perubahan yang berarti pada variabel Kualitas Audit (Y) karena berpengaruh secara signifikan.

KESIMPULAN

Penelitian mengenai pengaruh Etika Profesi dan Profesionalisme Auditor terhadap Kualitas Audit dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

Etika Profesi berpengaruh positif signifikan terhadap Kualitas Audit. Artinya, Etika Profesi berpengaruh memberikan perubahan yang berarti terhadap Kualitas Audit. Apabila terjadi perubahan sedikit saja pada Etika Profesi maka akan terjadi perubahan yang berarti terhadap Kualitas Audit. Sehingga Semakin tinggi Etika Profesi maka semakin baik pula kualitas audit yang dihasilkan, dan jika terjadi perubahan, hal yang paling berpengaruh dalam Etika Profesi yaitu Sikap Kecermatan dan kehati-hatian.

Profesionalisme Auditor berpengaruh positif signifikan terhadap Kualitas Auditor. Artinya semakin tinggi Profesionalisme Auditor maka semakin baik kualitas audit yang dihasilkan. Dan Profesionalisme Auditor memberikan pengaruh atau perubahan yang berarti terhadap Kualitas Audit, apabila terjadi perubahan sedikit saja pada Profesionalisme Auditor maka akan terjadi perubahan yang berarti terhadap Kualitas Audit. Hal yang paling berpengaruh dalam Profesionalisme Auditor yaitu kebutuhan otonomi.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Halim. 2008. Auditing Jilid 1. Sekolah

Tinggi Ilmu Manajemen YKPN: Yogyakarta.

Agoes, Soekrisno. 2012. Auditing: Petunjuk

Praktis Pemeriksaan Akuntan oleh Akuntan
Publik     Edisi        Empat.    Jakarta:  Salemba
Empat.

Arens, A. A., Elder, R.J., & Beasley, M. S. 2003.
Auditing Dan         Pelayanan              Verifikasi

Pendekatan Terpadu Edisi Kesembilan Jilid
1. Jakarta: PT. Indeks Kelompok Gramedia.

Arens, A. A., Elder, R.J., & Beasley, M. S. 2012.
Auditing And         Assurance             Services And
Integrated  Approach          14th        Edition.   New
Jersey: Pearson Education.

Badudu dan Sutan. 2002. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Bertens K. 1993. Etika. Jakarta: PT. Gramedia

Pustaka Utama.

Christiawan, Yulius Jogi. 2002. ”Kompetensi dan Independensi Akuntan Publik. Refleksi Hasil Penelitian Empiris”. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Vol.4 No. 2 (November) Hal. 79-92.

DeAngelo, L. E. 1981. Auditor Size And Audit

Quality.  Journal   of            Accounting            and

Economics             3.             North-Holland       Publishing
Company. July.

Donelly, D. P., Jeffrey J. Quirin and David O Bryan. 2005. Attitudes Toward Dysfunctional Audit Behavior: The Effects Of Locus Of Control, Organizational Commitment, and Position. The Journal of Applied Business Research. Vol.19. No.1

Elyzabet I. Marpaung, S.E., M.Si., Ak. 2012.
Pengaruh  Kompetensi  Dan  Independensi



Auditor  Terhadap               Kualitas  Audit.

Universitas Kristen Maranatha Bandung.

Friska,
Novanda.
2012.
Pengaruh
Profesionalisme Auditor, Etika Profesi, dan
Pengalaman
Auditor
terhadap
Pertimbangan
Tingkat
Materialitas.
Universitas Negeri Yogyakarta

Goodman Hutabarat Jurnal Ilmiah ESAI Volume 6, Nomor 1, Januari 2012 ISSN No. 1978-6034 Pengaruh Pengalaman Time Budget Pressure dan Etika Auditor terhadap Kualitas Audit The Effect Of Audit Experience Time Budget Pressure, and Auditors’ Ethics On Audit Quality

Holmes., & David. 1993. Auditing: Norma Dan

Prosedur. Jakarta: Erlangga.

Http://www.iapi.go.id

IAI.  2001.  Standar Profesi Akuntan Publik.

Jakarta: Salemba Empat.

Islahuzzaman. 2012. Akuntansi dan Auditing. Jakarta: PT Bumi Aksara

Lekatompessy, J.E. (2003). Hubungan Profesionalisme dengan konsekuensinya: Komitmen Organisasional, Kepuasan Kerja, Prestasi Kerja dan Keinginan Berpindah (Studi Empiris di Lingkungan Akuntan Publik). Jurnal Bisnis dan Akuntansi, Vol.5, No.1, April, hlm.69–84.

Luhgiatno. 2008. “Analisis Pengaruh Kualitas
Audit  terhadap  Manajemen  Laba  Studi

pada Perusahaan yang Melakukan IPO di
Indonesia”.            Tesis       S2            Magister                Sains
Akuntansi Universitas Diponegoro.

Messier, William F. Glover, Steven M. dan Prawitt, Douglas F. 2005. Jasa Audit dan assurance: Pendekatan Sistematis. Jakarta: Salemba Empat.

Mulyadi. 2002. Auditing jilid 1.Salemba Empat. Jakarta

Mulyadi.  2002.  Auditing  Jilid  2.  Salemba
Empat. Jakarta

Patricia,  J.              Parson.   2006.      Etika        Public

Relations. Jakarta: Erlangga.

Senin, 18 April 2016

Task 5 (Questions and answers TOEFL)

Ajeng Risky
20213516
3EB17



1.  .... skeleton of an insect is on the outside of its body.
(A) Its
(B) That the
(C) There is a
(D) The
Kunci & Pembahasan: 
Kunci jawaban: D
is = verb
skeleton = subject (belum lengkap)
Yang kita butuhkan ialah yang bisa melengkapi subject "skeleton".
Pilihan C sudah pasti salah karena terdapat verb (kita tidak butuh verb lagi).
Pilihan B salah karena terdapat conjunction "That". Jika terdapat 1 conj. maka kalimat terdiri dari 2 clause. Kalimat di atas cuma terdiri dari 1 clause (ditandakan cuma 1 verb "is").
Pilihan A salah karena "its" menandakan kepemilikan sementara "of" juga menandakan kepemilikan.
Pilihan paling tepat ialah pilihan D.

2.  For the advertiser, one of the greatest appeals of radio is ---- an audience all day long.
(A) that it has
(B) that to have
(C) to have it
(D) having it
Kunci & Pembahasan: 
Kunci jawaban: A
Soal ini terkati noun clause yg letaknya sebagai complement (pelengkap) setelah be (is).
Bentuk lain (pola sederhana):
You are what you read.
Ingat 2 clause butuh 1 conjunction.

3.  By ---- excluding competition from an industry, governments have often created public service monopolies.
(A) they adopt laws
(B) laws are adopted
(C) adopting laws
(D) having laws adopt
Kunci & Pembahasan: 
Kunci jawaban: C
governments = subject
have created = verb
Subject dan Verb sudah lengkap. Itu berarti tidak dibutuhkan lagi subject atau verb.
Pilihan A dan B sudah jelas salah karena ke dua nya memiliki subject dan verb.

Kita lihat dalam kalimat terdapat kata "excluding". Excluding merupakan adjective (present participle). Sebagaimana dalam aturan bahwa present participle (adjective) menjelaskan noun setelahnya. Nah, olehnya kita mesti memilih jawaban yang letak noun pas sebelum excluding.
Pilihan jawaban C = adopting lows
Pilihan jawaban D = having laws adopt
Kita lihat bahwa noun yang letak persis sebelum "excluding" ialah terdapat pada pilihan jawaban C.

4.  Lenses ---- are used to correct imperfections in eyesight.
(A) are the forms of glasses and contact lenses
(B) in the form of glasses and contact lenses
(C) glasses and contact lenses which form
(D) glasses and contact lenses may be formed
Kunci & Pembahasan: 
Kunci jawaban: B
are used = verb
Lenses = subject
Jadi, yg kita butuhkan ialah pelengkap (TIDAK terdapat Subject atau Verb).
Pilihan A salah terdapat verb "are".
Pilihan C salah terdapat conjunction "which" and verb "form"
Pilihan D terdapat verb "may be formed"
Pilihan yg tepat ialah pilihan B.
"in the form of glasses and contact lenses" ialah pelengkap prepositional phrase.

5.  To break thick ice, an icebreaker boat moves fast enough to ride up on the ice, ---- under its weight.
(A) so then breaks
(B) when breaks it
(C) which then breaks
(D) for which then breaks
Kunci & Pembahasan: 
Kunci jawaban: C
Analisis soal:
Subject: an icebreaker boat
Verb: moves
Dengan melihat secara cepat (scan) pilihan jawaban, bisa kita identifikasi bahwa soal ini terdiri dari dua clause. Ingat dua clause membutuhkan 1 conjunction.

Jadi, yang dibutuhkan untuk melengkapi kalimat di atas menjadi dua clause ialah "Conj. + Subject + Verb".
Berbeda dg soal no. 13 yang membutuhkan adverb clause, soal 14 ini membutuhkan adjective clause.
Cara mengetahuinya ialah dengan melihat tanda koma (the ice, ...). Ingat jika adverb clause maka tidak ada koma jika conj. terletak di tengah kalimat.
Jadi, dapat kita identifikasi bahwa clause di atas ialah adjective clause yang menjelaskan noun "the ice".
Ingat!
2 pola adjective clause:
1. Noun, Conj. + Subject + Verb (ketika noun sebagai object pada clause ke dua)
2. Noun, Conj/Subject + Verb (ketika noun sebagai subject pada clause ke dua)
Dairi soal di atas dapat diuraikan kalimat lengkapnya.
Clause 1: An icebreaker boat moves fast enough to ride up on the ice
Clause 2: The ice breaks under its weight. (the ice sebagai subject)
Ketika digabungkan (dengan menggunakan adjective clause), maka hasilnya
An icebreaker boat moves fast enough to ride up on the ice, which breaks under its weight.
Karena noun yang dijelaskan berposisi sebagai subject, pola yang digunakan ialah pola ke 2 (Noun, Conj/Subject + Verb)
Pilihan jawaban yg sesuai ialah pilihan (C) which then breaks.

6.  On attaining maximum size, ---- by drawing itself out and dividing into two daughter amoebas, each receiving identical nuclear materials.
(A) the reproduction of the amoeba
(B) the amoeba, which reproduces
(C) reproducing the amoeba
(D) the amoeba reproduces
Kunci & Pembahasan: 
Kunci jawaban: D
On attaining maximum size, ---- by drawing itself out and dividing into two daughter amoebas, each receiving identical nuclear materials.
Perhatikan
"On attaining maximum size" = prepositional phrase (keterangan tambahan) --> hilangkan saja.
"by drawing itself out and dividing into two daughter amoebas" = prepositional phrase (keterangan tambahan) --> hilangkan saja.
"each receiving identical nuclear materials" = adjective yang menjelaskan noun sebelumnya "amoebas" --> hilangkan saja.

Kalimat dalam bahasa Inggris mesti terdiri dari Subject & Verb. Dari analisi soal di atas kita ketahui bahwa tidak terdapat subject atau verb. Olehnya, di pilihan jawaban kita membutuhkan Subject & Verb.
Pilihan yang mempunyai subject dan verb ialah pilihan D.
"the amoeba" = subject
"reproduces" = verb

7.  Charles Schulz’s comic strip, “Peanuts,” features children who make --- about life.
(A) funny, wise statements that
(B) which funny, wise statements
(C) statements are funny but wise
(D) funny but wise statements
Kunci & Pembahasan: 
Kunci jawaban: D
Terdapat dua clause + 1 conjunction:
Clause 1 (main): Charles Schulz’s comic strip features children
Clause 2 (adjective clause) = who make

Dapat kita lihat bahwa ke dua-dua klausa di atas sudah lengkap Subject dan Verb nya + 1 conjuntion. Olehnya kita TIDAK butuh lagi subject atau verb JUGA conjunction.

Pilihan A salah karena terdapat conj. "that".
Pilihan B salah karena terdapat conj. "which".
Piliha C salah karena terdapat verb "are."

8.  In art, the tendency of gouache colors to lighten on drying makes ---- a wide range of pearly or pastel-like effects.
(A) it is possible
(B) possible
(C) possible to be
(D) it possible the
Kunci & Pembahasan: 
Kunci Jawaban: B
Soal pola penggunaan "make" selalu ada dalam ujian TOEFL.
Pola sesuai soal di atas: Make + adj + noun

Ingat polanya lengkapnya:
1. Make + sth + sth
2. Make + sth + adj.
3. Make + adj + sth.
4. Make + adj + that
5. Make + it + adj (for sb) to do

Note:
sth = something (noun)
sb = somebody

9.  Isabel Bishop was one of many American artists ---- by the government during the Depression years on various federal art projects.
(A) employed
(B) whose employment
(C) to employ
(D) had been employed
Kunci & Pembahasan: 
Kunci jawaban: A
Analisa:
Subject = Isabel Bishop
Verb = was
Kita ketahui soal di atas sudah lengkap subject dan verb.
Ada dua kemungkinan
1. Jika memang lengkapnya soal di atas terdapat dua clause maka yg kita butuhkan ialah 1 conjunction dan 1 clause (Subject + Verb) lainnya. Ingat 1 conjunction menghubungkan dua clause.
2. Kita hanya butuh pelengkap yang berarti tidak terdapat subject atau verb atau conj..

Analisis soal:
kemungkinan 1: yang kita butuhkan conj. dan 1 clause lainnya. Dari pilihan jawaban tak ada 1 pun yang memenuhi syarat.
Kemungkinan 2: pelengkap tanpa ada subject / verb / conj..
Pilihan B salah karena ada conj. "whose".
Pilihan D salah karena ada verb "had been employed".
Pilihan paling tepat ialah jawaban A.
"employed by the government during the Depression years on various federal art projects" merupakan adjective (past participle) yg menjelaskan noun sebelumnya "one of many American artists"

10.  Cholesterol is present in large quantities in the nervous system, where ---- compound of myelin.
(A) it a
(B) a
(C) being a
(D) it is a
Kunci & Pembahasan: 
Kunci jawaban: D
Ingat 1 conj. menghubungkan dua clause.
Di soal di atas kita lihat terdapat conj. "where". Olehnya dapat kita ketahui bahwa soal di atas terdiri dari dua clause.
Clause 1: Cholesterol is present in large quantities in the nervous system,
Clause 2: where .... compound of myelin.
Clause yang ke dua belum lengkap. Clause ke dua nampak kehilangan subject dan verb. Dari pilihan jawaban hanya pilihan D yang mempunya verb.
Jadi pilihan paling sesuai ialah pilihan D.

Clause 2 di atas masuk dalam kategori adjective clause.
"where it is compound of myelin" sebgai adjective clause yg menjelaskan "the nervous system"

11.  Painters of the early twentieth century who were known primarily for they colorful landscapes, the Group of Seven changed is name to the Canadian Group of Painters in 1933.
Kunci & Pembahasan: 
Kunci jawaban: They --> their
Pola: adjective + noun
their = adjective
colorful landscapes = noun

12.  Most animals have nervous systems, sense organs, and specialized modes of locomotion, and are capable of securing ingesting, and to digest food.
Kunci & Pembahasan: 
Kunci jawaban: to digest --> digesting
Parallel Structure= Gerund + gerund
securing = gerund
to digest = to infinitive
digesting = gerund

13.  Inflation, interest rates, and overall economic active can be governed by the United States Federal Reserve’s decision to adjust the supply of money to the economy.
Kunci & Pembahasan: 
Kunci jawaban: active --> activation
Pola: Adjective + Noun
economic = adjective
active = adjective
activation = noun

14.  Free land, cheaply transportation, and powerfully persuasive railroad advertising all helped flood the western part of the United States with farmersin the nineteenth century.
Kunci & Pembahasan: 
Kunci jawaban: cheaply --> cheap
Pola: Adjective + Noun
Cheaply = adverb
Cheap = adjective
transportation = noun

15.  Coral formations have known as fringing reefs are located close to shore,separated from land only by shallow water.
Kunci & Pembahasan: 
Kunci jawaban: have known --> that have been known
Analisis soal
Subject: Coral formations
Verb (utama) = are located
Subject dan verb utama sudah lengkap olehnya "have known" seharusnya bentuk adjective clause yang menjelaskan "coral formations".
Keganjilan yang lain, jika "known" berbentuk active maka seharusnya polanya "known + object (tanpa preposition "as").
Preposition "as" menandakan bahwa known seharusnya berbentuk passive --> "been known".

16.  Visibly only through large telescopes, Pluto has a yellowish color, which indicates that there is very little atmosphere.
Kunci & Pembahasan: 
Kunci jawaban: visibly --> visible
"Visibly only through large telescopes" merupakan penjelas terhadap noun "Pluto". Ingat yg menjelaskan noun ialah adjective bukan adverb.
Jadi, visibly (adverb) seharusnya menjadi visible (adjective)

17.  The International Monetary Fund was created in a effort to stabilize exchange rates without interfering with the healthy growth of trade.
Kunci & Pembahasan: 
Kunci jawaban: a --> an
Article "a" ketemu noun yang huruf pertamanya dibaca (pronounced) hidup.
Article "an" ketemu noun yang huruf pertamanya dibaca (pronounced) mati.

18.  Alaska became the forty-ninth state in 1959, and Hawaii became the fiftieth state lately that year.
Kunci & Pembahasan: 
Kunci jawaban: lately --> later

19.  Toward the end of his life, john Singer Sargent returned to the painting of landscapes and the use of watercolors, of which he excelled.
Kunci & Pembahasan: 
Kunci jawaban: of --> in
Excel + in (bukan of)

20.  The nectar of flowers are ingested by worker bees and converted to honeyin special sacs in their digestive systems.
Kunci & Pembahasan: 
Kunci jawaban: are ingested --> is ingested
Singular subject membutuhkan singular verb.
Subject = the nectar (singular)
Verb = is ingested (singular)









Adjectives and adverbs

Ajeng Risky
20213516
3EB17



Hallo my name is Ajeng Risky. in this video i'll explain a few thing about adjectives and adverbs ...




Jumat, 08 Januari 2016

Softskill Bahasa Indonesia (Drama tentang Melamar Pekerjaan)

Fungsi umum bahasa indonesia adalah sebagai alat komunikasi sosial. Bahasa pada dasarnya sudah menyatu dengan kehidupan manusia. Aktivitas manusia sebagai anggota masyarakat sangat bergantung pada penggunaan bahasa masyarakat setempat. Gagasan, ide, pikiran, harapan dan keinginan disampaikan lewat bahasa. Selain fungsi bahasa diatas, bahasa merupakan tanda yang jelas dari kepribadian manusia. Melalui bahasa yang digunakan manusia, maka dapat memahami karakter, keinginan, motif, latar belakang pendidikan, kehidupan sosial, pergaulan dan adat istiadat manusia.
Dalam softskill semester ini saya membahas tentang drama bahasa indonesia yang tugas nya adalah membuat drama tentang melamar pekerjaan. Melamar pekerjaan bukan pekerjaan yang mudah, terutama bagi pelamar pemula. Permasalahan utama dalam proses melamar pekerjaan adalah tidak mempunyainya rasa percaya diri. Rasa tidak percaya diri tersebut dapat berasal dari berbagai sumber seperti kepandaian, penampilan, umur, persaingan, pengalaman dan sebagainya. Hal tersebut harus dapat dihilangkan. Tanamkan dalam pikiran bahwa anda mempunyai kesempatan yang sama dengan pelamar lain.
Permasalahan kedua yang dihadapi pelamar adalah kurang pahamnya proses penerimaan pegawai (recruitment) pada suatu perusahaan. Setiap perusahaan mempunyai kebijaksanaan yang berbeda. Ada yang mengutamakan dari dalam organisasi, ada yang menjaring lewat iklan, dan ada pula yang melalui lembaga – lembaga pendidikan. Tetapi walaupun kebijaksanaan berbeda proses yang dijalankan relatif sama.
Proses dalam penerimaan pegawai (recruitment) bisa dimulai dari analisis kebutuhan tenaga kerja, pencarian sumber tenaga kerja, seleksi administratif, seleksi kemampuan, psikotes, masa percobaan, dan akhirnya calon pekerja diterima.

Kritik :
Untuk softskill bahasa indonesia kali ini saya merasa benar-benar berbeda dari softskill yang sebelumnya,karna kali ini saya ditantang untuk membuat drama kelompok tentang melamar pekerjaan dan saya sebenarnya sangat antusias karna softskill ini berbeda dari yang sebelumnya dan sangat menantang bagi saya,karna kita diwajibkan tampil depan kelas,menghapal teks dan berakting,sejauh ini menurut saya semuanya adalah hal yang positif dan tidak ada kritik negatif yang saya berikan.

Saran :
Untuk softskill drama bahasa indonesia ini,semoga semakin kreatif untuk memberikan tugas kepada mahasiswa seperti kami yang tidak selalu terpaku oleh tugas-tugas yang sulit. Terima kasih.